Rabu, 05 Oktober 2011

Review book : Mendung Tak Bermalam

dicopy dari bukuislamonline.com

Pemuda sejati bukanlah yang menggumbar kecongkakan , "bapakku begini dan begini . .." Pemuda sejati adalah yang dengan gagah berkata " inilah diriku .." [imam syafi'i] 
kalo biasanya manda minjem buku Abu Umar Basyier ama Umi-nya dieni , kali ini ama temen sendiri : hesti :)
masih karyanya Abu Umar Basyier ...
kali ini cerita tentang perempuan bernama Nafiah, yang dalam hidupnya ndak pernah kekurangan, selalu dimanja dan memiliki hari-hari mendung yang banyak dalam hidupnya . karena dimanja ,, 
Dia hafal betul bagaimana berteriak girang , tapi tak mau mengaduh dengan sopan
kehidupannya surem mendung..mulai dari meninggalnya sang Ibu, lalu di susul pamannya satu, dan berlanjut ke paman lain yang melecehkan dirinya hingga ia berumah tangga ...
ada kalanya, tangisan itu lebih bernilai dibandingkan senyuman [pepatah arab]
Nafiah membalas semua trauma itu dengan menjadi gadis tomboy yang suka "balap motor" tiap malam, dengan ekonomi yang cukup, ia mampu membawa harley untuk berkeluyuran pada malam hari bersama teman" gank motornya .. hingga akhirnya kematian temannya -rini- membuatnya enggan lagi track-track an ...

sampai Maimunah lah yang mengajaknya ke majelis ilmu, seburuk-buruk manusia pasti tak ingin masuk neraka, maka pada saat begitu di pikiran Nafiah ia pun mengikuti ajakan Maimunah, setelah itu ia merasa tertarik, dan ter'kena' oleh apa apa yang Ustadz katakan ... akhirnya Nafiah mengajak teman genk motornya yang lain, -cocom- namanya ... 

sampai akhirnya mereka rutin mengikuti majelis ilmu, Maimunah Cocom Nafiah ...
Salah satu syarat menuntut ilmu adalah thuuluz zamaan-waktu yang lama- . Orang yang ingin cepat-cepat menguasai ilmu sebelum waktunya takkan sampai ke tujuan 
klimaksnya ketika Nafiah pada saat umur 21 tahun... iya dua puluh satu tahun ia meminta untuk segera di nikahkan disini terjadi banyak konflik .. dari ta'aruf yg gagal karena ada yang meneror 'calon' dgn masa buruk Nafiah ...

tapi Alhamdulillah, ada salah satu pemuda lulusan pesantren yang tahu betul latarnya dan mau menerimanya . bahkan ketika Nafiah merasa tidak pantas menjadi istrinya , sang suami berkata :
hidup itu hari ini . karena hari kemarin telah berlalu . hari esok belum lagi tiba. maka hidup kita di dunia ini adalah sekarang. Jangan merusak hal yang sedang kita alami, dengan derita masa lampau yang sudah tiada, atau kecemasan terhadap hari esok yang belum lagi dan pasti tiba.

kisah masih berlanjut .. saat paman keduanya kembali melecehkannya saat rumah sepi, dan hobi lamanya yang kembali dia jalani seketika setelah Nafiah ditinggal mati ayahnya ...
pesan terakhir ayahnya :
Nafiah . Jadilah seperti namamu. Menjadi yang paling berguna bagi setiap orang yang di sekitarmu. bahkan untuk mereka yang sudah mati terkubur di dalam tanah. Jangan menjadi orang yang lihai urusan dunia. Namun pandir dalam urusan akhirat.
sampai akhirnya dia sadar, dan menemukan fakta-fakta bahwa orang-orang di sekelilingnya kini terasa dekat sekali dengannya ... dekat dengan hatinya .... tentu saja ending harus happy bukan ? apa yang mebuatnya tersadar, apalagi yang Alloh kejutkan di hidupnya ... apalagi ,,, mendung yang mebuatnya tetap teduh ;')
Sesungguhnya Kamu sekalian berada di tengah perjalanan siang dan malam. di lingkaran ajal yang terbatas, di tengah amal perbuatan yang selalu terpantau, sementara kematian datang tiba-tiba. Barang siapa yang menanam kebaikan, niscaya ia akan menuai kebahagiaan, barang siapa yang menanam kejahatan, niscaya ia akan menuai penyesalan, setiap orang yang bercocok tanam, akan menuai yang setimpal dengan apa yang ditanamnya [siyaru a'lami nubala'l:497]
recommended buat remaja-remaja yang belum punya jati diri, biar belajar gimana menghabisi masa mudanya :) buat siapa aja juga boleh :D buat yang merasa hari-harinya mendung, yang kadang tak percaya lagi akan guna matahari karena udah tidak mampu lagi terangi sudut gelap hati :D

Seringkali kita berfikir telah mampu menyembunyikan sebagian realitas di hadapan banyak orang, padahal sesungguhnya tak sedikit orang yang mengintipnya diam-diam, bahkan melihatnya jelas-jelas dengan kedua matanya , lalu menyimpan rahasia itu bersama kita, mereka menemani kita dalam kebisuan, dalam misteri kita. Manusia memang penuh keterbatasan. Tak hanya di hadapan Alloh manusia tak bisa berlagak suci, di hadapan sebagian manusia pun seringkali kemunafikan berbuah basi.

2 komentar:

  1. nice.. Bikin hati gimanaa gitu bacanya..

    Mbana br tau lho nda dirimu punya 'e-diary' hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. gimana gimana gitu bana ? udah baca belum bana bukunya ?

      hehehe ...

      Hapus