Kamis, 14 Mei 2015

Cerpen : Meninggalkan

Kamu,
Selamat bahagia.
ternyata waktumu yang lebih dulu sampai.
Aku ? masih disini. tapi tidak kesakitan seperti yang kamu kira.
Aku samar samar baik-baik saja.
Setelah berteman baik dengan prasangka-prasangka buruk tentangmu,
Aku menjabarnya satu-satu.
kemungkinan pertama yang ada dibenakku adalah kamu tidak hanya menujuku,
tapi juga yang lain, bersamaan.
keputusan mundur karena keluarga itu, bagaimana kalau aku bilang itu bohong,
iya, itu prasangka burukku yang kedua.
kamu yang katanya punya andil besar dalam menyelesaikan dalam menyelesaikan masalah keluargamu itu,
kamu yang katanya terpukul atas apa yang ada itu,
kamu yang meminta waktu lebih dari sepuluh hari untuk mengabarkan ke Ayahku akan keputusanmu itu,
tapi sekaligus yang hari ini melangsungkan pernikahan, tapi bukan denganku.
Waktu itu aku hanya berpikir mengapa aku dibohongi, dan tak layakkah aku diperlakukan jujur ?
Setelah semua harapan-harapan baik yang kamu utarakan.
baiklah, aku sudah bilang sejak awal kalau aku memilih berteman baik dengan prasangka buruk itu.
pertama, kalau kamu menempuh cara yang salah, kamu yang berdosa, aku jelas tak apa, aku tak perlu repot-repot memikirkannya.
kedua, Masalah keluarga(mu) yang kamu jadikan alasan untuk mundur dulu, dan sekarang kamu menikah, berarti masalah keluargamu sudah selesai.
ketiga, karena kamu pergi untuk alasan yang lebih baik,orang yang lebih baik dan tentunya Alloh tahu memang ini yang terbaik.
selamat bahagia.
benar benar bahagia.
Aku lipat kertas itu, kumasukkan kedalam tempat dimana dia berasal amplop coklat bertuliskan Happy Wedding. Aku hanya tak habis pikir, " Kenapa berita ini sampai padanya?" . Padahal pernikahan aku hari ini pun tak banyak yang tahu, teman-temanku pun tidak. Kenapa dia harus tahu? Kenapa dia mencari tahu? Kenapa dia ucapkan selamat ? Ah, nanti saja kupikirkan, sekarang aku harus menyiapkan betul latihan untuk ijab kabul nanti. Surat ini tak boleh mengubah apapun, pernikahan ini harus terjadi. Setidaknya aku hanya mematahkan harapan satu perempuan, Kalau pernikahan hari ini gagal bisa dua perempuan yang patah karenaku. Aku tahu keputusan meninggalkannya adalah tepat. Bukan karena ia punya banyak kekurangan, tak ada yang membuatku keberatan atasnya. Tapi, dengan surat itu tiba di tanganku, sekarang aku samar samar tenang. aku meninggalkan perempuan yang punya pemahaman baik, tentang harapan dan takdir. Akan ada seseorang yang lebih baik dariku untuknya. Semoga.

p.s ini cerpen pertama gais, maapin kalo masih amatir.