Jumat, 29 Juni 2012

Angpau Merah yang menunggu untuk dibuka


Judul Buku      : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Harga              : Rp. 72.000,-
Tebal               : 507 Halaman

Buku ini bercerita tentang cerita cinta seorang pemuda berhati paling lurus di sepanjang sungai Kapuas, Borno. Memang tidak sepenuhnya tentang cerita cinta Borno dengan Mei saja. Dibuku ini kita menyelami makna persahabatan antara Andi dan Borno. Banyak nasihat dari Pak Tua yang akan menggugah hati pembaca. Dibuku ini juga tertuang tentang mimpi dan janji-janji Borno kepada dirinya, Bapaknya dan Mei. Sama seperti kita, Borno akan merengkuh mimpi-mimpinya, berjuang menepati janji-janjinya, menjalin persahabatannya, dan mendapatkan cintanya dengan mengikuti nasihat dari Pak Tua.
Ketika Borno berumur dua belas tahun, ia harus mengalami hari terburuk dimana ia harus kehilangan Bapaknya. Bapaknya adalah nelayan tangguh yang menjadi tulang punggung dari keluarga. Suatu hari, Bapaknya tersengat ubur-ubur dan menurut dokter tidak ada solusi untuk kesembuhannya. Lalu, Bapaknya memutuskan untuk mendonorkan jantungnya kepada pasien yang mengalami gagal jantung. Borno tidak rela karena menganggap Bapaknya belum mati. Sejak itu Borno selalu bertanya-tanya apakah ubur-ubur yang membuat ayahnya meninggal ataukah pisau bedah dokter.
            Selepas lulus SMA, Bornolah yang sekarang berubah fungsi menjadi tulang punggung keluarga. Borno bekerja enam bulan di pabrik karet dan hanya tiga minggu bekerja di                                      pemeriksaan karcis kapal feri karena dipaksa terlibat dalam hal curang, setelahnya ia habiskan dengan kerja serabutan lainnya. Sampai akhirnya, Pak Tua menyarankan agar Borno jadi pengemudi sepit, memakai sepit punya Pak Tua. Masalahnya, dulu Bapaknya pernah berpesan kalau dia tidak boleh menjadi nelayan atau pengemudi sepit. Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu panjang 5 meter lebar 1 meterndengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. Dengan pengertian dari Pak Tua, akhirnya Borno luluh dan belajar naik sepit.
            Cerita cinta dimulai ketika Borno jadi pengemudi sepit. Semua penumpang yang tadinya menaiki sepit yang dikemudi Borno di dermaga mendadak turun setelah tahu bahwa Bornolah yang akan mengemudikan sepit tersebut. Namun, saat seluruh penumpang turun, masih ada satu penumpang yang tetap di sepit itu yaitu seorang gadis di bangku paling depan. Ternyata Borno tidak harus mengemudikan sepit milik Pak Tua melainkan sepit yang atas inisiatif Bang Togar mengajak seluruh gang untuk membelikan sepit baru untuk Borno. Di sepit itu tertulis nama asli Borno “BORNEO” . Borno senang bukan main dan saat berpindah ke sepit yang baru, ternyata tertingal surat bersampul merah, dilem rapi dan tanpa nama ditemukan di bangku paling depan.  
            Surat inilah yang mengantarnya pada pertemuan pada gadis berbaju kurung kuning yang kemarin duduk dibangku paling depan. Perihal bertanya apakah surat tanpa nama itu miliknya adalah bukan pekerjaan mudah, Borno terlalu malu dan banyak pertimbangan. Seminggu setelah itu, Borno selalu memaksa berada pada nomor antrian sepit ke tiga belas, agar dapat mengangkut penumpang semanis gadis berbaju kurung kuning itu, berusaha mencari tahu nama gadis tersebut. Nama gadis itu Mei, ia ketahui setelah ia menceritakan lelucon yang disarankan oleh Andi tentang kenapa orang tua menamakan anaknya dengan nama bulan seperti januari, februari, bagaimana jika anak mereka berjumlah tiga belas. Dua puluh tiga jam empat puluh limat menit seharinya, dan hanya lima belas menit saja Borno dapat berada bersama Mei sebagai penumpang sepitnya. Begitu setiap harinya sehingga Mei sudah dapat mengobrol banyak dengan Borno.
Suatu hari Mei pulang ke Surabaya , dan saat itulah tidak ada lagi yang Borno tunggu di antrean nomor tiga belas, insiden ini berbarengan dengan sakitnya Pak Tua. Semenjak itu, Borno menghabiskan waktu untuk mengunjungi Pak Tua selama Mei tidak ada. Di masa inilah Borno dan Andi diberi tentang petuah-petuah cinta dari Pak Tua. Tips hebat yang sering dilupakan orang patah hati: banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? kebanyakan orang asing, orang baru. Kau lupa, Borno . Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kasu selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghibur, bukan sebaliknya malah kau abaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan jadi lebih ringan.
  Saat Mei kembali ke Pontianak, mereka berdua janji untuk bertemu. Namun, Mei tidak datang. Setelah hari itu, Mei benar-benar tidak bisa ditemui. Di sekolah, di rumahnya, selalu tidak ada kesempatan untuk menemui Mei. Jika menurut penyanyi dangdut lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, Borno lah yang merasakan keduanya sekaligus, sakit hati dan sakit gigi. Dokter Sarah, dokter gigi yang dia kunjungi untuk menyembuhkan giginya. Bukannya mengobati Borno,Sarah langsung memeluk Borno erat, sambil berterima kasih. Masih ingat dengan pertanyaan Borno waktu berumur dua belas tahun? Sarah kembali membuka kenangan lamanya, karena ternyata Dokter Sarah adalah anak dari Pasien yang didonorkan jantungnya oleh Bapak Borno. 
Selama menjadi pengemudi sepit, Borno juga belajar mesin dengan Bapak Andi. Borno dapat belajar dengan cepat, hingga selain mengemudi sepit ia juga membantu di bengkel Bapaknya Andi. Bapak Andi berkeinginan membeli bengkel di tengah kota. Namun, dananya masih kurang, sehingga Borno yang diajak Bapak Andi untuk berkongsi mengambil keputusan besar yaitu menjual sepitnya. Di tengah kunjungannya ke rumah Pak Tua untuk mengantar rantang nasi, ternyata disana ada Mei yang bertemu di tangga pintu. Mei ternyata mencari tahu ke Pak Tua mengapa Borno menjual sepit. Apakah karena Mei tidak lagi naik sepit ? Apakah Bang Borno marah padanya karena ia tidak datang ke dermaga? “Perasaan adalah perasaan, Borno. Orang seperti kau, lebih suka rusuh dengan perasaan itu sendiri. Rusuh dengan harapan, semoga besok bertemu, semoga besok ada penjelasan baiknya. Semoga. Semoga Kau sibuk sendiri, tanpa menyadari Mei juga sibuk sendiri. Astaga, apa susahnya kau menemui Mei, bertanya baik-baik. Kalaupun gadis itu menjawab plintat-plintut, tidak jelas apa maunya, serba peragu, tiba-tiba mundur satu langkah, bahkan menjadi cemas bertemu kau, itulah sifat perasaan, butuh waktu, butuh proses. Sialnya kalian berdua punya karakter naif ”. Di situlah akhirnya Borno bertemu lagi dengan Mei dengan mengantarnya pulang naik opelet tanpa banyak bicara. Ternyata “kalimat maaf” dan “kalimat penjelasan” bisa digantikan oleh kebersamaan selama setengah jam.
Namun ternyata bengkel yang dibeli dengan patungan Bapak Andi dan Borno itu bermasalah, mereka ditipu, pemilik aslinya datang dan sudah ada garis polisi di bengkel tersebut. Borno memeluk Andi, Andi malah makin keras tangisnya sambil meracau tentang kongsi masa depan yang tinggal mimpi kosong. Rasa sedih melihat teman baik menangis karena ternyata bisa berubah menjadi semangat menggebu tiada tara. Rasa pilu melihat teman baik teraniaya, bisa mengubah seorang pengecut berubah menjadi panglima perang. Borno mendekap Andi erat-erat sambil berkata “Kita belum kiamat Andi, kita justru baru memulainya. Percayalah, suatu saat kelak nama kau dan namaku akan terpampang besar-besar di banyak bengkel. Percayalah ”. Mereka tetap menjalankan bisnis tersebut, karena pemilik asli bengkel tersebut menghargai sisa kontrak yang ada. Mereka semua bekerja keras hingga mereka mendapatkan sponsor dan bisa dibilang cukup sukses.
Borno dan Mei sempat bersama-sama membagikan stiker dan jaket dari sponsor. Tidak diprediksi, setelah itu Mei malah meminta agar Borno tidak menemuinya. Entah kenapa? Ayah Mei tidak memperbolehkan Borno menemui Mei. Akhirnya Mei dibawa pulang lagi oleh Ayahnya ke Surabaya. Enam bulan setelah Mei pergi, Borno tetap menjalankan hidup dengan memegang teguh permintaan Mei : mengurus bengkel, menjadi bujang yang memiliki hati paling lurus di sepanjang Sungai Kapuas. Satu yang tidak dapat Borno tepati yaitu kesempatan baru.
Sarah adalah perempuan yang baik. Ia sering mengunjungi Ibu dan juga baik kepada Borno. Namun bagi Borno, Sarah bukan kesempatan baru baginya. Mei lah satu-satunya kesempatan yang Borno miliki, dan Borno tidak pernah mau menggantinya dengan siapapun. Hampir setahun Mei pergi, tiba-tiba saja bibi, seseorang yang menemani Mei di Pontianak, mengabarkan Mei sakit di Surabaya. Dan bertanya tentang Amplop merah yang dulu Borno temukan di sepitnya dulu. Di amplop merah itulah semua jawaban terungkap. Siapa Mei? Mengapa Mei pergi? Serta bagaimana akhir dari cerita ini? Apakah ada hubungannya dengan kematian Bapak Borno? Sebaiknya Anda mencari tahu jawabannya sendiri dengan membaca buku ini.
Cover buku yang menampilkan sosok wanita kurang mengambarkan sosok Mei yang identik dengan warna kuning. Isi buku sangat bagus karena menampilkan sisi kota Pontianak yang kebanyakan pembaca jarang sekali bertemu dengan suasana seperti itu. Nasihat-nasihat bijak Pak Tua kepada Borno banyak diambil hikmahnya bagi pembaca. Tokoh-tokoh di dalam buku memiliki sifat-sifat yang kuat. Dalam setiap babnya terjalin rasa ingin tahu yang mendalam bagi pembacanya, sehingga tidak bosan di tengah-tengah buku. Buku ini mengajarkan persahabatan, kerja keras, mendengar nasihat dan membenahi perasaan cinta di hati. Berbeda dengan cerita cinta yang lain, cerita cinta ini lebih membagi bagaimana kita membenahi perasaan cinta ketika kita berharap, menunggu bahkan patah hati.
            Untuk para remaja yang suka melebih-lebihkan perasaan cinta yang dimiliki, semua orang yang belum mengerti tentang seni berharap dan menerima akan merasakan manfaatnya ketika membaca nasihat-nasihat dari Pak Tua dan isi keseluruhan buku ini. Masih ada beberapa penulisan nama yang tertukar antara Sarah dan Mei. Beberapa kata-kata yang tidak tepat ditemui. Namun, ini hanya sedikit mengganggu dan pembaca masih tetap memahami cerita.     
            Menurut saya, secara keseluruhan buku ini memiliki banyak kelebihan dan sangat baik untuk dijadikan rekomendasi dalam membaca. Buku ini saya rekomendasikan untuk remaja setingkat satu SMA ke atas.