Jumat, 19 Desember 2014

Bukan Review Book : Hujan Matahari

Hujan Matahari, Kurniawan Gunadi
Tarraaaaaa budiman~
saking lamanya ndak review buku semoga tulisan kali ini tidak membosankan.

*/pernah ingat bagaimana awal pertama kali kalian berjalan, kalian berlari atau ketika kita berteman ?
ingat ? lalu kita sudah sejauh ini. mungkin ketika Saya juga bisa menemukan buku ini.*/

awalnya ada anak murid Saya bernama Hilyatin yang mengirimkan gambar ini .
dan Saya langsung aja suka sama tulisannya . dan kebetulan di pesan yang dikirim murid Saya itu ada alamat webnya . jadilah Saya kepoin web tersebut. Setelah itu , sebenernya Saya langsung kirim gambar tersebut ke beberapa teman buat bisa jadi bahan obrolan. tapi tanggapan masih sedikit. jadilah Saya ngutek di web tersebut sendirian.

mm... *nginget lagi* awalnya bukan dari murid Saya deng, awalnya Saya juga melihat gambar di instagram tapi yang gambar ini trus ada nama kurniawan gunadi dah tuh . Saya gugling, mmm gak ketemu apa apa kalo ndak salah. yaudah berhenti pencariannya. eh sampe akhirnya yang tadi saya ceritain kalo di kirimin pesan sama murid Saya.

jadi disitulah cerita bermulai. Saya jadi maen ke tumblr nya masgun (sok akrab kan!). akhirnya Saya berhasil menemukan info kalo bakal ada bedah buku "Hujan Matahari"di kota Hujan dan ikutlah acara tersebut.

dan disanalah Saya berhasil bertemu dengan penulis baru tersebut. mmm.. kebanyakan yang dateng anak kampus situ, jadi berasa tua di sana. tapi biarin deh gada yang kenal, dah gitu tampang masih mendukung untuk terlihat layaknya anak kampus.hehe~

kapan review hujan mataharinya. Sebenarnya bukan review ini namanya, ini tuh kayak jawaban-jawaban Saya atau inspirasi yang muncul setelah baca buku Hujan Matahari.

Baru kali ini Saya membaca buku fiksi sambil memegang pensil dan kertas A4 kosong, membaginya jadi empat bagian. Lalu menuliskan tulisan lagi setelah membaca tiap judul yang ada di buku ini. tapi A4 emang ndak cukup buat nulis semuanya kayaknya waktu itu Saya cuma sampe bab hujan. trus berhenti nulis. dan cengengesan sendiri.

buku ini dibagi jadi empat bagian :
1. sebelum  hujan


2. gerimis

[keyakinan ]

Pada tulisan ini Saya belajar ketulusan, bagaimana perasaan yang tulus. Saya pernah bertanya sebelumnya tentang arti dari kutipan Tere Liye : Tidak ada kesalahan, kekeliruan, apalagi dosa dalam sebuah perasaan, bukan ? Akhirnya dengan baca tulisan ini, Saya rasa Saya mengerti, bahwa terkadang bisa jadi laki² baik² menyukai wanita (belum) baik yang belum mengenal kebaikan. Seseorang yang memilih tetap pada rasanya bukan membuang perasaannya jauh yang dia anggap salah. Ternyata lelaki ini punya visi :
" aku ingin menyelamatkannya dan bisa bersama-sama dengannya ke Surga. Gadis sebaik itu tidak sepantasnya mendapatkan murka-Nya " /*tuluuus banget sih!!*/
Saya, merasa bahwa ketika saya masih memiliki rasa suka kepada laki² yang belum mengenal kebaikan (menurut Saya) itu adalah perasaan yang salah. Tapi akhirnya Saya paham maksud Tere Liye. Terima Kasih Mas Gun sudah menceritakan kisah ini. Terima kasih untuk laki-laki yang ada dalam tulisan ini yang bilang bahwa: 
" perasaan itu fitrah dan setiap perasaan baik akan menghantarkan kepada hal baik "

Dia, laki-laki itu memang baik, namun (mungkin) belum mengenal banyak kebaikan.

[Sepi]
Saya sendiri dan tidak kesepian. Sebenarnya, Sata terlalu malas memikirman kalau Saya sendirian atau kesepian. Saya selalu kelelahan sampai di rumah dan terkadang tidak ada waktu lagi untuk berfikir apakah Saya kesepian?

Dialog.
(cuma bisa Senyum.bagus banget!)

(Jangan) pedulikan aku.
Akupun belum selesai dengan diriku sendiri. Tapi aku berpikir tetap bisa menyelesaikannya walau ada atau bersama kamu.

Matahari kepada Bumi.
Aku tak ingin jadi Matahari, pun kamu bukan bumi. Yuk,Bersatu ?

Tujuan. Sekalipun aku pilihan, tolong jangan diungkapkan

Alasan. Alasan kenapa kamu mencintainya, jangan diungkapkan! Tunggu sampai nanti saatnya Halal.
Berpergianlah denganku. Kapan kamu mau menuliskan ini untukku ?

Pengembara. Aku bukan warung kopi, warung tegal atau bahkan spbu tempat kamu mengisi bahan bakar. Aku hanya, tempat tinggal

[Pangeran Ibunda Ratu]
Apa yang paling menakutkan bagi wanita ? Percaya tidak percaya adalah dicintai. Jawabannya mudah, ia adalah pesaing berat bagi Ibu dari orang yang mencintainya. Belum belum menjadi istri sudah harus dibandingkan dengan tingkat yang lebih tinggi, yaitu Ibu. Maka sebagai anak (lelaki), kamu harus bisa menjaga hubungan baik kedua orang ini. Kaamu jangan membandingkan keahlian Ibumu dengan orang yang kau cintai, karena jelas, dan perempuan itu tahu sekali, bahwa dia tidak ada apa apanya dibanding Ibumu. Maka, sebelum berani melangkah memasuki rumah kedua orang gua putri yang kau cinta, sepenuhnya tugasmu menyelesaikan persoalan tentang kekhawatiran² yang dipikirkan Ibumu. Karena jika kamu (saja) tak bisa menenangkan kekhawatiran Ibumu sendiri, bagaimana kamu bisa menenangkan perempuan lain? Jangan pernah datang kerumah yang kamu tuju betapapun engkau ingin. Karena ketika kau datangi rumah wanita baik-baik, tetangga akan ramai. Karena tak pernah ada tamu laki-laki untuk wanita ini.


apakah harus jatuh cinta dahulu ? (tolong) Perempuan jangan jatuh cinta dulu, bahkan pada yang datang. karena yang datang tak semuanya benar-benar akan tinggal. walaupun sebenarnya dia ingin.
Akhirnya ketika yang datang memutuskan untuk pergi, jangan pernah meletakan harapan pada tempat yang salah.
cukupkan saja pada kesan bahwa ia mengesankanmu untuk datang dan menghormatimu. Lalu, ketika dia memutuskan untuk pulang,sudahi. akhiri kesan itu.

apakah harus jatuh cinta dahulu ? Ketika Perempuan sudah jatuh cinta, pada yang pernah datang walau tak terlalu dalam. 
dan pada Akhirnya ketika yang datang memutuskan untuk pergi, jangan pernah terlalu dalam sampai ikatan halal.
cukupkan saja pada kesan bahwa ia mengesankanmu untuk datang dan menghormatimu.Lalu, ketika dia memutuskan untuk pulang,sudahi.(tolong) akhiri perasaan itu. 

aku, pengendara motor yang suka hujan2an aku suka membawa jas hujan dan cover shoes. 
aku ingin pulang, tapi dimana rumahku yang sebenarnya ?
apa benar bermodal payung dan jas hujan akan membawaku pulang ke tujuan?

yang pasti kamu sedang berteduh bukan ? karena kalaupun aku tahu kamu menyukai hujan, kamu tidak mau dibilang gila karena umur segitu bermain hujan-hujanan.
kamu memilih berteduh dan menikmati waktumu sendirian, sok sok an merenungkan hidup padahal pikiran kemana mana.
ah tidak, hanya ke satu mana dan orang yang kau perhatikan saat hujan.

terkadang terlambat tak pernah lebih baik dari tidak sama sekali. dan tak pernah bisa lebih baik , pada suatu , keadaan tertentu
seperti kamu, yang tak pernah datang. padahal dia jelas jelas menantimu, menantikanmu apa adanya, menyiapkan segenap hatinya untuk kamu jaga.
siap menerima kalau nanti harus berjuang bersama. selalu ada alasan kenapa kalian saling mencintai bukan ? jangan takut, pengecut!

tidak romantis lagi jika bulan dan bumi tidak tahu kenapa ada kalender hijriah dan masehi. ah, untung keduanya cocok.
dan tahu bahwa ilmu alam yang pernah dipelajarinya di sekolah dulu dapat menyenangkan istrinya. kamu tahu kan kenapa cerdas itu penting ?

para pencuri tidak pernah bertanggung jawab atas hidup orang-orang yang dicurinya.
para pencuri tidak akan mengkhawatirkan perasaan orang-orang yang telah dicurinya.
dan pencuri tidak pernah ketahuan mengambil barang curian
para pencuri juga tak mau menurut jika disuruh mengembalikan barang curiannya barang sebentar.
sekarang, kamu mau mencuri ayahnya juga?

aku pernah mendoakan sebuah nama ah banyak nama samapai suatu hari aku berhenti.
karena aku merasa tak seharusnya . apakah sekarang setelah membaca tulisan ini aku harus kembali mendoakannya? apa katamu ? karena ini sebuah kesempatan untuk merasakan bagaimana tulusnya berdoa untuk orang lain.

orang orang yang menjual agama di kereta ]
Saya seringkali cuek dengan keadaan sekitar apalagi orang lain. Bagi Saya memastikan pemahaman agama orang lain adalah tugas keluarga masing-masing.
apatis memang. tapi setidaknya itu yang saya lakukan. saya hanya berani membenahi cara beragama keluarga saya. Dan, kamu harus tahu, itu saja susah sekali.
mungkin karena saya kurang bersungguh sungguh. Saya sendiri tak pintar pintar dalam urusan agama.Seringkali khilaf, kalau orang lain itu bukan orang lain lagi, isnya Alloh aku peduli.

Aku sudah terbiasa sendiri. ]
Harus melakukan percobaan 154 kali gagal untuk tidak lagi sendiri ? se melelahkan itu ?

Kisah yang tersemat pada kamera tua ? ]
boleh aku bertemu Ibumu dan sekedar meminta penjelasan "kebahagiaan itu yang hakiki"?

Boneka ]
hai, namaku Larasati tidak pakai H seperti tokoh dalam cerita ini, tapi namaku jelas sama artinya. yang lurus hatinya.
Aku selalu suka ketika ada orang yang menceritakan kisah yang didalamnya ada namaku, dan tokoh itu baik. karena banyak cerita yang menamakan tokohnya dengan namaku, namun jahat.
Semoga Laras tidak apa-apa.
Semoga kelak, Laras tahu, bahwa ia memperjuangkan sesuatu, yang kadang akhirnya mungkin tak sesuai dengan apa yang ia rencanakan.
Semoga Laras mengerti sangat baik setiap takdir untuknya.

3. hujan
4. reda

Reviewnya segitu aja ya, soalnya biar kalian pingin tahu dan minat beli. Ralat, bukan review, entah apa, tapi ya Hujan Matahari emang sebegininya, maksudnya setiap orang kayak harus nerjemahin lagi maksud dan tujuan dari tulisan tersebut. Beberapa rekan guru, teman dan murid berhasil Saya racuni untuk ikutan beli buku ini. Haha. Dan emang beda beda nanggepinnya. Ada yang bilang " mana ada sih Nda yang kayak gini di dunia nyata, ke 'perfect'an. Saya pribadi suka sih, belajar dari cerita fiksi, makanya kadang kok hidup Saya kayak novel amat #loh. Mengutip dari Tere Liye, tingkatan menulis itu ada tiga, pertama menemani, naik satu tingkat, bermanfaat, naik satu tingkat lagi, menginspirasi. Nah, begitu juga dengan yang tingkatan pembaca kali ya, merasa hanya ditemani saja dengan tulisan itu atau dapat bemanfaat buat dia ambil nasihat²nya atau terakhir, apakah dia terinspirasi banyak hal dari cerita tersebut. Hujan matahari ? Saya milih jadi pembaca yang terinspirasi!

Rabu, 17 Desember 2014

Lapang dada

Bagaimana cara terbaik menceritakan kabar buruk ?
Kabar buruk tetap menpunyai efek buruk untuk si penerima. Mau kamu bercerita dengan sebaik apapun.
Bagaimana kalau yang ingin kita ceritakan adalah orang tua kita. Atau sebaliknya, ketika orang tua kita ingin menceritakan kabar buruk yang ada.
Bukankah semuanya terasa sulit untuk posisi masing masing.
Semoga cerita buruk yang ada tidak membuat kita diam satu sama lain.

Bahkan saat kamu ingin menyalahkan orang lain terhadap kabar buruk yang ada, jangaan. . . Jangan pernah menyalahkan siapapun atas keadaan yang tak kita suka.
Ketika memutuskan membenci nya malah membuat hatimu tak pernah tenang.
Maafkan.

Jumat, 12 Desember 2014

Ibu yang tak pernah kecewa

Bukan Saya (anaknya) yang hebat.
kalau kamu mendengar Ibu Saya bilang Saya, sebagai anaknya, belum pernah mengecewakannya, bukan Saya yang hebat.

Kamu tahu kenapa orang bisa kecewa ?
Iya, karena berharap.

Ibu (ku), adalah wanita yang tak pernah muluk muluk dalam berharap.
Merasa cukup dan bersyukur atas apa yang sudah anaknya capai. Jadi ketika kamu dengar Ibu (ku) bilang Saya tidak pernah mengecewakannya. sekali lagi, Bukan Saya yang hebat.
Ibulah yang hebat. Ibu yang selalu bersyukur.

Padahal bisa saja kenyataannya sebaliknya.
Saya anak yang buruk. Sulung yang buruk.

Ibu selalu bersyukur atas hal hal sederhana yang anaknya lakukan. Mau dari segi manapun, dia selalu membandingkan dengan yang lebih buruk dari keadaan yang dia hadapi.

Dulu, ketika Ibu jadi anak-anak, Ibu tak pernah dapat kasih sayang Ibu(nya Ibu) yang cukup, tau apa yang kami dapat ? Iya, kami tumbuh jadi anak yang tak sering dimarahi karena malas mencuci, menggosok, dan pekerjaan rumah lainnya¹. Bagi Ibu, biarlah kami belajar saja. Karena dulu, Ibu harus bekerja susah payah untuk sesuatu.
Padahal, harusnya Ibu kecewa pada kami dalam urusan ini, tapi tidak bagi Ibu kami. Salah ? Tak tahulah. Alasan Ibu hanya tak ingin anaknya sekarang se 'menderita' ibunya dahulu.
Awal Saya mengajar, di tempat yang jauh dari <s>Bumi</s> rumah, Dan saat semua orang protes kenapa Saya mengajar di sana. Ibu tak pernah protes, Ibu hanya bertanya , Laras capek ndak ? Gimana Di sana?

Saat gaji pertama, seorang anak lulusan S1 yang biasanya besar seperti yang dibanggakan wakil orang tua di acara wisuda Saya. Dan pada pada waktu itu, gaji saya jauh sekali dari kata bisa dibanggakan. Ibu Saya menerimanya sambil tersenyum dan bilang "alhamdulillah".
Padahal, banyak orang tua yang kecewa dan mengritisi pekerjaan anaknya. Dan (biasanya) membuat anaknya stress. Tapi tidak pada Ibu Saya.
Jadi, Sebenarnya banyak alasan yang bisa membuat Ibu Saya kecewa. Tapi, Ibu Saya memilih bersyukur. Mungkin.

Itulah salah satu sumber kebahagiaan Saya.
Ketika Saya tahu, bahwa Saya mungkin tidak sehebat S1 yang lain atau Anak sulung yang lain. tapi, memiliki Ibu yang tak pernah kecewa adalah sangat menenangkan.

Ada hal yang membuat Saya selalu ingin menangis mengingatnya.
Suatu pagi, ketika Saya mau berangkat mengajar.
" Ras tau gak, dulu Bapak kepingin anak pertamanya laki biar bisa didik adik²nya"
"Iya bu ? Terus? "
" iya ... kan perempuan, ternyata Laras juga bisa kan didik adik²nya... berarti kepinginan Bapak tercapai"
Sambil senyum bangga gitu.
(Padahal Sayanya dah mau nangis)
¹ itu dulu, sekarang udah jago nyuci, gosok sendiri kok. Gamau diremehin gitu.

"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di websitehttp://nulisbarengibu.com”