Minggu, 11 November 2012

Sederhana itu bahagia


Bahagia itu benar benar sederhana
bagaimana tidak ?
ketika gaji pertamamu yang tidak terlalu banyak, diterima dengan senang hati oleh ibumu sambil berucap syukur dan senyumnya terlihat ikhlas

tentulah sederhana,
ketika transkip nilai hasil kuliahmu selama empat tahun, dibuka dengan seksama oleh Bapakmu, tidak banyak kata yang keluar memang, tapi garis wajahnya jelas, matanya berkilat melihat kata : sangat memuaskan.

kadang terkembang,
seperti cupcake yang dibuat adik pertamamu khusus untuk kamu, jangan bandingkan rasanya dengan yang di toko-toko . jelas berbeda . disini ada rasa kebahagiaan ...

polos saja,
sepolos adik laki-lakimu yang tidak pernah peduli dengan penampilan,dan baju baru yang kau berikan dengan model tangan 7/8 membuatnya bertanya "ini baju belum jadi ya?"

jelas-jelas jujur
sejujur adik terakhirmu yang tidak gengsi menanyakan kapan pulang, selama itukah ? atau bertanya kapan berangkat, secepat itukah ?

sederhana bukan!
kutiplah kebahagiaan dalam kehidupan kalian dari hal-hal sederhana. hal-hal terkecil yang kalian dapati di keluarga kalian masing masing .

Minggu, 04 November 2012

Happy Graduation ras!

[011112]
akhirnya kemaren kamis, Manda dkk wisuda.
rasanya ... seneng banget pas tau duduk bareng-bareng sama temen temen yang selama empat taun belajar bareng, terlebih ternyata manda dapet no 65 dan dwi sama ipi 63 64 ... wuih berurutan tapi kenyataannya manda harus misah sendiri di belakang soalnya satu baris cuma ada 8 bangku. rasanya mau nangis aja, ngeliat mereka di seberang sana ...

sudahlah ...
rasa rasanya empat tahun begitu saja berlalu, tapi kalau diingat memang tidak begitu saja berlalu juga sih,
pertemuan pertemuan dengan orang-orang yang berminat dengan fisika komputasi memiliki tempat tersendiri di perjalanan, inginnya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu ... semuanya tanpa terlewat ...

belum banyak insiprasi pas nulis nih , nanti lagi ya! maap ...

Me with my parents

Senin, 24 September 2012

#LanjutS2

jangan mau menjadi yang disebutkan dalam firman Alloh ini:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat benar-benar lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).

hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

ayo ngaji ... tapi ngaji 'bener' ya (smile)

A.R.T.I.N.Y.A

Manda bukan mau ngebacain arti dari ayat qur'an atau hadist kok, cuma mau cerita arti nama AMANDA LARASATI. iya itu namaku ...

Oya, manda kalo di rumah di panggilnya Laras, kalo ama temen-temen seringnya Manda, kalo lagi pada kesel sama manda jadinya mande, gk deng ... gak kalo kesel ....

Kata Bapak Amanda Larasati itu artinya Anak Manis dan Ayu yang lurus hatinya.
(Borneo di bukunya tereliye adalah pemuda berhati paling lurus di sepanjang sungai kapuas)

Manda juga bingung kenapa endingnya nggak nyambung, jadi Amanda itu singkatan dan laras itu artinya lurus dan ati itu artinya hati. 

jadi artinya 

ANAK MANIS DAN AYU YANG LURUS HATINYA 

seneng sama arti nama sendiri, somehow manda ngerasa kemudahan kemudahan manda dalam menjalani kebaikan sekarang adalah do'a dari manda ketika di beri nama. 

ya, do'a dan harapan dari orang tua. 
Manda rasa setiap orang tua, pasti... tanpa terkecuali menginginkan anaknya menjadi baik, sekalipun orang tuanya belum tentu baik. itulah fitrahnya ...

maka mulai detik ini berjanjilah untuk tidak mematahkan harapan itu, kadang kita harus bangun lebih pagi dan tidur lebih malam dari biasanya, itu perlu. untuk berpikir berkali-kali. tentang Harapan dan do'a Orang Tua kita. 

oke. semoga Manda bisa menjadi yang diharapkan oleh orang tua manda. begitupun kamu ! 
dan yang paling berhak untuk dijaga dari Api neraka adalah keluarga (kenaoa endingnya nyeremin ya jadi bawa-bawa neraka, karena kelak hanya akan ada pilihan Surga dan Neraka )
ayo semangat!

Jumat, 24 Agustus 2012

tulisan lama ...



[230412]
hari ini aku berfikir tentang banyak hal
tentang bagaimana sebuah peraturan dibuat memang sesungguhnya untuk kebaikan kita/ walau dalam menjalankannya tak sedikit oknum atau orang mengambil kesempatan di dalamnya . bukan peraturannya yang salah tapi...

tentang bagaimana sesuatu yang dulu sekali, mungkin sangat lama, kita ketahui pada awalnya, lalu terlupa karena tak pernah dilirik lagi. tak pernah diulang, tak pernah diingat ...
misalnya seperti ibadah yang memang harus dilakukan dengan dua hal yang benar, sesederhana niat yang benar dan cara yang benar .
kita dulu pernah mengenal teori yang sama walau praktiknya kembali ke (keimanan) kita masing- masing.

sendiri

setiap kita pernah dibiarkan sendiri
untuk bisa berjalan pertama kali, orang tua kita melepas tangan kita dan percaya anaknya sudah sanggup berjalan ...

di waktu TK, kita pertama kali diantar dan dibiarkan sendiri tanpa di tunggui
karena orang tua kita percaya kita tidak akan lagi sibuk mencarinya dan tidak menangis disana

ketika sd pun sama, ibu mengantar dan akhirnya pulang .
kita sendirian dan sesekali khawatir seperti apa sesungguhnya orang-orang yang duduk di sekitar kita.
gurunya, apakah sebaik ibu atau tidak ?

bahkan ketika smp untuk pendaftaran kita masih di temani orang tua.
sampai akhirnya mau tidak mau berani naik angkutan umum sendiri ke sekolah.

saat sma, semua seperti kemauan kita, mengambek saat tidak diijinkan pergi jauh, kita ingin sendiri . meninggalkan larangan mereka , terkadang ?

kuliah pun sama, orang tua kita mempercayakan apa yang anaknya lakukan di kampus, tanpa harus setiap semester mengambil rapor. tidakkah mereka terlalu polos untuk mempercayai kita ? atau kita yang selama ini menyia-nyiakan kepercayaan itu.

sekarang kita sudah besar, semuanya terasa cepat . mungkin kita masih ingat ketika berjalan-jalan di pasar membeli pakaian baru untuk masuk TK, tapi lihat sekarang, di depan laptop, sibuk di luar rumah ?

sebentar lagi, kita akan merasa ditinggal sendiri ketika harus menghadapi dunia baru .
mungkin sulit bagi kita , yang tak pernah tinggal jauh dari orang tua. sulit rasanya membayangkan tanpa keluarga ini di kejauhan sana, fiuh ...

tapi, semua akan tiba pada saat dimana kita tahu bersama.
kita udah besar, sudah waktunya sendiri mengambil tanggung jawab setelah selama beberapa tahun, disekolahkan dan dibesarkan sebegitu baiknya.

akhirnya, Laras akan mengambil makna baru dari kata sendiri yang akan dihadapi nanti, sendiri di tempat ngajar dan tinggal di sana.

Sabtu, 28 Juli 2012

Do'a perempuan biasa


Rabbi, aku mencintai ibuku, maka bila aku memang boleh menyayangi dan membahagiakannya, berilah kemampuan untuk menyayangi dan membahagiakannya. Bila kecukupan harta bisa membantuku membahagiakannya, sesungguhnya bukan harta yang aku minta. Tetapi bila cara itu memang bekerja, apa boleh buat, kenapa tidak jika aku memang harus menjadi orang yang kaya ? Sungguh sebenarnya bukan kekayaan yang aku inginkan, tetapi bila itu menjadi sebab bagi terwujudnya sesuatu yang kuharapkan dan Kau mengijinkannya, aku hanyalah perempuan biasa yang tak akan sanggup menolaknya.

Rabbi, aku menyanyangi bapakku, maka bila aku memang boleh membalas kebaikan hatinya yang telah menumbuhkan hidupku sampai ke titik ini, ijinkanlah aku melakukannya. Bila prestasi-prestasi, ketinggian pangkat dan derajat, posisi tawarku dihadapan masyarakat, dan apapun saja yang membanggakannya bisa menjadi perantara bagi untuk membahagiakannya. Sesungguhnya aku tak minta gemerlap dunia. Tetapi bila Engkau memperbolehkanku membalas kebaikan bapakku dan bila cara itu memang cukkup bekerja untuk mereaksikan senyawa kebahagiaan dihatinya, maka apa boleh buat, Rabbi, aku tidak akan macam-macam kepadaMu dengan lancang menolaknya.

Rabbi, aku menyanyangi adik-adikku, keluargaku. Aku juga tahu betapa mereka menyayangiku. Sia-sia hidupku jika tak pernah sanggup membahagiakan mereka. Maka tumbuhkanlah kepada diriku sayap-sayap kebaikan yang bisa membantu mereka menerbangkan do'a-do'a dan harapannya kepadaMu. Kabulkanlah do'a-do'a mereka. Ini bukan tentang menjadi seseorang, ini soal menjadi bagian dari rencana indah-Mu tentang hidup yang menghidupi dan hidup yang menghidupkan. 

-diambil dari buku Yang galau, yang meracau(Fahd Djibran)-

Finally ...

27 Juli 2012

dengan di sponsori oleh baju, rok dan sepatu lele yani,
akhirnya Manda sidang juga
Alhamdulillah... dinyatakan lulus //

(kisah lengkapnya nyusul ya :D)
Mimpi itu bukan untuk banyak dibicarakan tapi untuk diperjuangkan




Jumat, 29 Juni 2012

Angpau Merah yang menunggu untuk dibuka


Judul Buku      : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Harga              : Rp. 72.000,-
Tebal               : 507 Halaman

Buku ini bercerita tentang cerita cinta seorang pemuda berhati paling lurus di sepanjang sungai Kapuas, Borno. Memang tidak sepenuhnya tentang cerita cinta Borno dengan Mei saja. Dibuku ini kita menyelami makna persahabatan antara Andi dan Borno. Banyak nasihat dari Pak Tua yang akan menggugah hati pembaca. Dibuku ini juga tertuang tentang mimpi dan janji-janji Borno kepada dirinya, Bapaknya dan Mei. Sama seperti kita, Borno akan merengkuh mimpi-mimpinya, berjuang menepati janji-janjinya, menjalin persahabatannya, dan mendapatkan cintanya dengan mengikuti nasihat dari Pak Tua.
Ketika Borno berumur dua belas tahun, ia harus mengalami hari terburuk dimana ia harus kehilangan Bapaknya. Bapaknya adalah nelayan tangguh yang menjadi tulang punggung dari keluarga. Suatu hari, Bapaknya tersengat ubur-ubur dan menurut dokter tidak ada solusi untuk kesembuhannya. Lalu, Bapaknya memutuskan untuk mendonorkan jantungnya kepada pasien yang mengalami gagal jantung. Borno tidak rela karena menganggap Bapaknya belum mati. Sejak itu Borno selalu bertanya-tanya apakah ubur-ubur yang membuat ayahnya meninggal ataukah pisau bedah dokter.
            Selepas lulus SMA, Bornolah yang sekarang berubah fungsi menjadi tulang punggung keluarga. Borno bekerja enam bulan di pabrik karet dan hanya tiga minggu bekerja di                                      pemeriksaan karcis kapal feri karena dipaksa terlibat dalam hal curang, setelahnya ia habiskan dengan kerja serabutan lainnya. Sampai akhirnya, Pak Tua menyarankan agar Borno jadi pengemudi sepit, memakai sepit punya Pak Tua. Masalahnya, dulu Bapaknya pernah berpesan kalau dia tidak boleh menjadi nelayan atau pengemudi sepit. Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu panjang 5 meter lebar 1 meterndengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. Dengan pengertian dari Pak Tua, akhirnya Borno luluh dan belajar naik sepit.
            Cerita cinta dimulai ketika Borno jadi pengemudi sepit. Semua penumpang yang tadinya menaiki sepit yang dikemudi Borno di dermaga mendadak turun setelah tahu bahwa Bornolah yang akan mengemudikan sepit tersebut. Namun, saat seluruh penumpang turun, masih ada satu penumpang yang tetap di sepit itu yaitu seorang gadis di bangku paling depan. Ternyata Borno tidak harus mengemudikan sepit milik Pak Tua melainkan sepit yang atas inisiatif Bang Togar mengajak seluruh gang untuk membelikan sepit baru untuk Borno. Di sepit itu tertulis nama asli Borno “BORNEO” . Borno senang bukan main dan saat berpindah ke sepit yang baru, ternyata tertingal surat bersampul merah, dilem rapi dan tanpa nama ditemukan di bangku paling depan.  
            Surat inilah yang mengantarnya pada pertemuan pada gadis berbaju kurung kuning yang kemarin duduk dibangku paling depan. Perihal bertanya apakah surat tanpa nama itu miliknya adalah bukan pekerjaan mudah, Borno terlalu malu dan banyak pertimbangan. Seminggu setelah itu, Borno selalu memaksa berada pada nomor antrian sepit ke tiga belas, agar dapat mengangkut penumpang semanis gadis berbaju kurung kuning itu, berusaha mencari tahu nama gadis tersebut. Nama gadis itu Mei, ia ketahui setelah ia menceritakan lelucon yang disarankan oleh Andi tentang kenapa orang tua menamakan anaknya dengan nama bulan seperti januari, februari, bagaimana jika anak mereka berjumlah tiga belas. Dua puluh tiga jam empat puluh limat menit seharinya, dan hanya lima belas menit saja Borno dapat berada bersama Mei sebagai penumpang sepitnya. Begitu setiap harinya sehingga Mei sudah dapat mengobrol banyak dengan Borno.
Suatu hari Mei pulang ke Surabaya , dan saat itulah tidak ada lagi yang Borno tunggu di antrean nomor tiga belas, insiden ini berbarengan dengan sakitnya Pak Tua. Semenjak itu, Borno menghabiskan waktu untuk mengunjungi Pak Tua selama Mei tidak ada. Di masa inilah Borno dan Andi diberi tentang petuah-petuah cinta dari Pak Tua. Tips hebat yang sering dilupakan orang patah hati: banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? kebanyakan orang asing, orang baru. Kau lupa, Borno . Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kasu selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghibur, bukan sebaliknya malah kau abaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan jadi lebih ringan.
  Saat Mei kembali ke Pontianak, mereka berdua janji untuk bertemu. Namun, Mei tidak datang. Setelah hari itu, Mei benar-benar tidak bisa ditemui. Di sekolah, di rumahnya, selalu tidak ada kesempatan untuk menemui Mei. Jika menurut penyanyi dangdut lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, Borno lah yang merasakan keduanya sekaligus, sakit hati dan sakit gigi. Dokter Sarah, dokter gigi yang dia kunjungi untuk menyembuhkan giginya. Bukannya mengobati Borno,Sarah langsung memeluk Borno erat, sambil berterima kasih. Masih ingat dengan pertanyaan Borno waktu berumur dua belas tahun? Sarah kembali membuka kenangan lamanya, karena ternyata Dokter Sarah adalah anak dari Pasien yang didonorkan jantungnya oleh Bapak Borno. 
Selama menjadi pengemudi sepit, Borno juga belajar mesin dengan Bapak Andi. Borno dapat belajar dengan cepat, hingga selain mengemudi sepit ia juga membantu di bengkel Bapaknya Andi. Bapak Andi berkeinginan membeli bengkel di tengah kota. Namun, dananya masih kurang, sehingga Borno yang diajak Bapak Andi untuk berkongsi mengambil keputusan besar yaitu menjual sepitnya. Di tengah kunjungannya ke rumah Pak Tua untuk mengantar rantang nasi, ternyata disana ada Mei yang bertemu di tangga pintu. Mei ternyata mencari tahu ke Pak Tua mengapa Borno menjual sepit. Apakah karena Mei tidak lagi naik sepit ? Apakah Bang Borno marah padanya karena ia tidak datang ke dermaga? “Perasaan adalah perasaan, Borno. Orang seperti kau, lebih suka rusuh dengan perasaan itu sendiri. Rusuh dengan harapan, semoga besok bertemu, semoga besok ada penjelasan baiknya. Semoga. Semoga Kau sibuk sendiri, tanpa menyadari Mei juga sibuk sendiri. Astaga, apa susahnya kau menemui Mei, bertanya baik-baik. Kalaupun gadis itu menjawab plintat-plintut, tidak jelas apa maunya, serba peragu, tiba-tiba mundur satu langkah, bahkan menjadi cemas bertemu kau, itulah sifat perasaan, butuh waktu, butuh proses. Sialnya kalian berdua punya karakter naif ”. Di situlah akhirnya Borno bertemu lagi dengan Mei dengan mengantarnya pulang naik opelet tanpa banyak bicara. Ternyata “kalimat maaf” dan “kalimat penjelasan” bisa digantikan oleh kebersamaan selama setengah jam.
Namun ternyata bengkel yang dibeli dengan patungan Bapak Andi dan Borno itu bermasalah, mereka ditipu, pemilik aslinya datang dan sudah ada garis polisi di bengkel tersebut. Borno memeluk Andi, Andi malah makin keras tangisnya sambil meracau tentang kongsi masa depan yang tinggal mimpi kosong. Rasa sedih melihat teman baik menangis karena ternyata bisa berubah menjadi semangat menggebu tiada tara. Rasa pilu melihat teman baik teraniaya, bisa mengubah seorang pengecut berubah menjadi panglima perang. Borno mendekap Andi erat-erat sambil berkata “Kita belum kiamat Andi, kita justru baru memulainya. Percayalah, suatu saat kelak nama kau dan namaku akan terpampang besar-besar di banyak bengkel. Percayalah ”. Mereka tetap menjalankan bisnis tersebut, karena pemilik asli bengkel tersebut menghargai sisa kontrak yang ada. Mereka semua bekerja keras hingga mereka mendapatkan sponsor dan bisa dibilang cukup sukses.
Borno dan Mei sempat bersama-sama membagikan stiker dan jaket dari sponsor. Tidak diprediksi, setelah itu Mei malah meminta agar Borno tidak menemuinya. Entah kenapa? Ayah Mei tidak memperbolehkan Borno menemui Mei. Akhirnya Mei dibawa pulang lagi oleh Ayahnya ke Surabaya. Enam bulan setelah Mei pergi, Borno tetap menjalankan hidup dengan memegang teguh permintaan Mei : mengurus bengkel, menjadi bujang yang memiliki hati paling lurus di sepanjang Sungai Kapuas. Satu yang tidak dapat Borno tepati yaitu kesempatan baru.
Sarah adalah perempuan yang baik. Ia sering mengunjungi Ibu dan juga baik kepada Borno. Namun bagi Borno, Sarah bukan kesempatan baru baginya. Mei lah satu-satunya kesempatan yang Borno miliki, dan Borno tidak pernah mau menggantinya dengan siapapun. Hampir setahun Mei pergi, tiba-tiba saja bibi, seseorang yang menemani Mei di Pontianak, mengabarkan Mei sakit di Surabaya. Dan bertanya tentang Amplop merah yang dulu Borno temukan di sepitnya dulu. Di amplop merah itulah semua jawaban terungkap. Siapa Mei? Mengapa Mei pergi? Serta bagaimana akhir dari cerita ini? Apakah ada hubungannya dengan kematian Bapak Borno? Sebaiknya Anda mencari tahu jawabannya sendiri dengan membaca buku ini.
Cover buku yang menampilkan sosok wanita kurang mengambarkan sosok Mei yang identik dengan warna kuning. Isi buku sangat bagus karena menampilkan sisi kota Pontianak yang kebanyakan pembaca jarang sekali bertemu dengan suasana seperti itu. Nasihat-nasihat bijak Pak Tua kepada Borno banyak diambil hikmahnya bagi pembaca. Tokoh-tokoh di dalam buku memiliki sifat-sifat yang kuat. Dalam setiap babnya terjalin rasa ingin tahu yang mendalam bagi pembacanya, sehingga tidak bosan di tengah-tengah buku. Buku ini mengajarkan persahabatan, kerja keras, mendengar nasihat dan membenahi perasaan cinta di hati. Berbeda dengan cerita cinta yang lain, cerita cinta ini lebih membagi bagaimana kita membenahi perasaan cinta ketika kita berharap, menunggu bahkan patah hati.
            Untuk para remaja yang suka melebih-lebihkan perasaan cinta yang dimiliki, semua orang yang belum mengerti tentang seni berharap dan menerima akan merasakan manfaatnya ketika membaca nasihat-nasihat dari Pak Tua dan isi keseluruhan buku ini. Masih ada beberapa penulisan nama yang tertukar antara Sarah dan Mei. Beberapa kata-kata yang tidak tepat ditemui. Namun, ini hanya sedikit mengganggu dan pembaca masih tetap memahami cerita.     
            Menurut saya, secara keseluruhan buku ini memiliki banyak kelebihan dan sangat baik untuk dijadikan rekomendasi dalam membaca. Buku ini saya rekomendasikan untuk remaja setingkat satu SMA ke atas.