Kamis, 31 Desember 2015

Menikah,

Menikah, dinikahi olehmu ternyata ada hal yang harus aku lakukan, maaf bukan keharusan tapi secara sadar atau tidak aku melakukannya. Lima kali dalam sehari, jumlah minimal yang biasa terjadi karenamu tiap harinya.

Aku sangat senang di waktu lima kali ini. menuliskannya pun rasa-rasanya agak sulit. Mungkin ini konsekuensi menikahi lelaki sholeh sepertimu. konsekuensi yang menyenangkan.

Aku minimal jatuh cinta lima kali sehari padamu, yaitu pada waktu-waktu sholat. Aku jatuh cinta pada caramu bangun dari tidur, duduk atau hal - hal lain ketika kamu mendengar Adzan. Atau pada saat di tempat yang tidak terdengar Adzan, kamu akan membuka situs yang berisi waktu-waktu sholat. Aku jatuh cinta pada caramu mengganti baju kaos yang biasa kamu pakai di rumah bahkan kadang ke warung atau kemanalah tapi kamu ganti dengan koko dan atau kemeja. biasanya, kalau rambutmu sedang acak-acakan kamu akan menggunakan peci. Aku jatuh cinta pada wangi yang kamu semprotkan ketika hendak berangkat ke Mesjid. Semoga Rabb-mu juga menyukainya. Aku suka saat kamu kebingungan mencari sendal yang akan kamu pakai ke Masjid, sambil kadang berpikir nanti hilang atau tidak. hehe. Dan Akupun suka mengambilkan kacamata yang akan kamu pakai sebelum kamu menemukannya sendiri. 

Aku jatuh cinta pada hal-hal sederhana darimu, pada kebiasaan-kebiasaanmu di lima waktu. Karena ketahuilah hal-hal sederhana darimu sudah membuatku jatuh cinta. 

Selasa, 15 Desember 2015

Manda udah 'berdua'

Ini adalah jawaban dari tulisan Ka(pten) Nasti tepat sebelum postingan yang ini. Sebenarnya tulisan atau challenge itu terjadi jauh sebelum Saya, akhirnya 'berdua'. 

Sebulan, tepat hari ini udah sebulan Saya 'berdua'. Ada yang berubah ? banyak. Sekarang Saya udah bukan anak kampung Irian lagi, Sekarang Saya ngontrak 'berdua' di daerah Tangerang. Tempat ngajar Saya-pun berubah, walau masih di Bimbel yang sama.

Soal kontrakan ada dialog lucu antara Rafli, sepupu Saya, dengan Mas Adit, suami Saya. Ketika pindahan H+2 dari hari pernikahan ke Tangerang, Rafli yang harusnya Sekolah sampai bolos Sekolah buat ikutan.
Rafli : " Mas Adit, ini rumah mas Adit?"
Mas Adit : " Bukan Fi, ini Rumah Orang, Mas Adit ngontrak"
Rafli cengar cengir gak jelas sambil bilang : " berarti nanti kalau ngajakin orang main ke sini, gini dong "Maen ke rumah orang(kontrakan gue) yuk?!""
Mas Adit : " hahahaha"

Terlalu dini untuk menceritakan apapun pada umur penikahan yang seumur jagung ini. Eh, btw umur jagung berapa lama sih ? ya segini-an kali ya. 

Perasaan Saya kadang berubah lebih sensitif, ke-tidak bisa-an Saya pada hal-hal tertentu misalnya. dulu mah sedihnya biasa aja ini bisa jadi lebih sedih. Atau kalau ada yang bicarain hal tersebut Sayanya diem diem Baper. Saya paham sih, mereka mungkin udah ngelewatin fase itu juga bahkan mereka nggak nganggep itu nyinggung, karena Saya pernah di posisi biasa-biasa tersebut juga. Alhamdulillah sih, Saya punya temen yang bilangin dan ngilangin ke Baper an Saya. iya, temen hidup maksudnya. ((peace))

Jadi, karena pernikahannya masih seumur jagung ya kayak jagung lah ya jagung manis~

Jumat, 11 Desember 2015

Tulisan Nasti : Kalau Manda jadi dua?

Manda bilang challenge ini cuma becanda. Sayangnya dia becanda disaat gw udah gak senang di ajak bercanda. Gw maunya diajak serius. Serius. Hahaha

Mm.. Kalo Manda ada dua gimana? Kalo menurut gw sih gak akan gimana gimana karna itu gak mungkin terjadi. Hahaha. Kelar kan nulisnya.

Oke, mari berandai andai. Kalo Manda ada dua. Buat gw sih yang satu bakalan jadi sia sia ajah. Gak akan ada manfaatnya, sebab apa? Sebab satu orang Manda ajah udah bisa memainkan semua perannya dengan baik kok. *Tsaaah…* #JilbabGeratis

Sebagai anak sulung Ibu Bapaknya, yang sekaligus menjadi Kakak ketiga adiknya. Sebelum kalian anggap gw lebai menilai ini buat Manda, atau tidak objektif karna dia temen deket gw, kalian boleh deh cek tulisannya tentang Ibu yang tak pernah kecewa. Dibagian yang menceritakan bahwa dulu Bapak nya sangat ingin sulungnya adalah anak laki laki, dengan harapan untuk bisa mendidik adiknya.. namun sayang, takdir tak memberikan Bapak pilihan. Sulungnya ternyata seorang anak perempuan, Amanda Larasati. Lantas Apa Bapak ibunya kecewa? Jawabnya tidak. Karna meski perempuan, seorang Manda tetap bisa mendidik adik adiknya, seperti yang diharapkan Bapak.

Nah. satu Manda udah cukupkan memenuhi harapan Bapak Ibu, dan tidak mengecewakan mereka. Lalu buat apa ada dua? Oh mungkin Ranti sang adik memerlukan tambahan satu Mba Yayas (panggilan kesayangan Manda) , untuk jaga jaga kalo proposal anggaran belanjanya tidak di acc sama Mba yayas1 bisa minta acc sama Mba yayas2. Mungkiin.. 

Lalu lalu,.sebagai seorang perempuan. Sebagai seorang Amanda Larasati. Duh, udah lah yah cukup satu ajah yang kayak gini gak perlu dua apalagi tiga. Satu ajah udah bisa bikin antrian buat kaum omblowan. Apalagi dua? Bisa makin berat juga persaingan kaum omblowati . Hahaha

Lalu lalu, sebagai teman. Nah ini, satu Manda ajah udah sering bikin pusing, apalagi dua?!
Kalau Manda ada dua, mungkin gw sebagai teman akan kewalahan menghadapinya. Soal imajinasi imajinasinya yang kadang bener kadang ngawur, soal soal “fisika” kehidupannya itu. Soal celoteh celoteh pintarnya yang entah dari mana dia dapat yang memaksa saya untuk mikir. Sampai soal tebak tebakannya yang gak penting, tapi juga gak mau diabaikan. Pusing kan? Hahaha.. Tapi tersebab itu semua satu Manda udah cukup bisa bikin suasana macam suara jangkrik jadi rame lagi. Juga hal hal sepele bisa jadi lucu sampai ada maknanya. Dan semua itu juga yang bikin gw gak pernah merasa sedih seperti yang dia sangka, karna notif dihenpon gw cuma penuh dari seorang Manda. Sebab satu Manda udah cukup mengusir kesepian hidup gw. *tsaaah.. #JilbabGeratis Hahaha

Ah udahlah gak perlu dipikirin lagi kalo Manda ada dua. Karna memang gak perlu ada dua Manda, juga kalau pun ada yang merasa perlu itu tak akan terjadi. Sebab Manda sudah diciptakan satu saja. Mungkin yang perlu dipikirkan adalah, kalo Manda udah “berdua” gimana nda?