Sabtu, 28 Februari 2015

PeMaLu

Perkenalkan, aku adalah gadis yang sangat pemalu.
Bagaimana aku harus menceritakan bagaimana pemalunya aku.
Aku ceritakan dari bagian yang paling absurd. 
Aku suka sekali makan, terutama makan ayam. Di tempat aku mengajar, aku biasa makan dengan satu wadah berdua dengan guru lain. Iya guru perempuan tentu saja. Di tempat aku mengajar ini adalah khusus perempuan, guru dan muridnya perempuan semua.tak ada lelaki, mungkin Kami takut jatuh cinta.
Ayam goreng, ini berawal ketika ayam goreng tersisa satu dalam wadah lauk, sedangkan semua sudah dapat jatah masing-masing. Sambil berbincang dengan beberapa guru lain, mata Saya tetap saja terganggu dengan pemandangan ayam yang tersisa satu itu. Saya iseng bergumam : ” Duhai ayam, tahukah kau rasanya kesepian ? ” tertawa. Saya melanjutkan, ” duhai ayam, tahukah kau makna kehilangan? ” Jadilah Saya didaulat sebagai, Pemalu.
 Itu sebuah genk. Pemalu tentu bukan makna sebenarnya, Pemalu adalah singkatan dari Pengen Makan Mulu. Pencetusnya Ka Fathia, guru Sejarah yang cerdasnya kadang absurd, dan satu lagi Ka Fani, guru Bahasa Indonesia yang punya mimpi jadi gemuk. Genk ini punya senior, Benalu. Apa tebak ? Beuh… Nambah mulu. Benalu beranggotakan Ibu ibu rumah tangga yang makannya satu tingkat diatas genk pemalu. 
Pernah sekali waktu, Saya makan satu wadah dengan Ka Hajar, guru bahasa arab yang punya anak namanya Ismail, sayang bapaknya bukan Ibrahim tapi Mas Udin, Saya dan Ka Hajar makan dengan lauk ayam, Ka Hajar makan sambil terus bercerita, Saya mendengarkan sambil fokus makan. Tiba di satu momen saking asyiknya Ka Hajar bercerita, Ka Hajar malah mengambil lauk ayam milik Saya. Entahlah Saya benar benar reflek bilang ” eh, ayam gue tuh” semua langsung diam. Ka Hajar berhenti cerita dan melihat ke arah Saya, teman makan lainnya pun tertawa melihat Saya yang segitu protektifnya sama lauk sendiri. 
Di lain waktu, Saya makan berdua dengan Ka Fani. Dengan lauk ayam, kami makan sambil ngobrol berdua. Ka Fani dan Saya bercerita berhantian. Ada yang janggal, dengan lauk yang Ka Fani makan, tapi karena Saya juga asik bercerita Saya tidak se refleks cerita pertama tadi, Saya akhirnya sadar bahwa Ka Fani telah merenggut kehormatan ayam milik Saya. Tapi dengan baik² Saya bilang : ” Ka Fani, itukan ayam Manda tau” // 
Terakhir masih dengan Ka Fani, orang ini aneh sekali kalau lapar dia sering lupa, Saya ? Wah kalau perut sudah berasa lapar, Saya inisiatif mengajak yang lain untuk makan. Suatu hari ketika akreditasi, Ka Fani masih sibuk mengerjakan tugasnya padahal sudah masuk waktu makan siang. Berniat baik menemani ka Fani menyelesaikan tugasnya dan nanti berharap makan siang bersama dia, Saya di samping Ka Fani saja, sambil memperhatikan dia mengerjakan tugas. Waktu makan siang hampir habis ka Fani belum juga kelar menyelesaikan tugasnya. Akhirnya Saya membujuk dia makan dulu sebelum waktu istirahat habis dan kembali bertemu pengawas. Akhirnya kita makan, karena waktu yang memang ‘mepet’ Ka Fani mengambil makan tidak banyak, Saya sih standar(baca : banyak). Waktu istirahat habis, Ka Fani segera menyelesaikan makannya. Saya sendiri masih asik menjamah sisa ayam kebanggaan Saya. Ka Fani yang geregetan melihat Saya, menyuruh Saya agar buru-buru. Saya masih susah betul melepaskan sisa ayam yang tak tahu kenapa Saya selalu bangga padanya. Sampai akhirnya Ka Fani mengeluarkan perkataan yang tidak boleh dikatakan oleh genk pemalu. Ka Fani mengatakan : “udah ih Manda! Tinggalin aja ayamnya” Akhirnya, Saya meninggalkan ayam itu. Luka ? Jangan ditanya, jelas Saya terluka dengan perkataan Ka Fani yang terakhir. Ka Fani ndak setia, tega. 
—PEMALU (PENGEN MAKAN MULU)

Minggu, 01 Februari 2015

apakah ke surga memang banyak jalan ?

Kalau kamu berjalan menuju surga juga, aku akan biarkan kamu
tapi, aku memang bukan ahli ilmu, atau orang yang paling benar
aku, sama sepertimu, mencari kebenaran lalu mengikutinya.
Aku sedang berjalan dengan kebenaran yang kutahu.Iya, aku takkan berbeda denganmu, seharusnya,
jika kita berdua benar-benar dalam kebenaran. tapi, siapa yang sebenarnya di dalam kebenaran ?
kalau kamu memang berjalan menuju surga, kenapa tidak disini bersamaku ?
apakah ke surga memang banyak jalan ?
kalau iya, beritahu aku.
jika tidak, coba sini, duduk bersamaku.
kita lihat, mana jalannya ...